Berita

Perpusda Bantul Di Taman Gabusan TVRI Yogyakarta

Kamis Wage, 19 Mei 2016 19:03 WIB 1348

foto
Suasana Di Studio TVRI Yogyakarta

Kegemaran membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang memiliki peran dalam menumbuhkan kegemaran membaca. Hal itu sejalan dengan amanat Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.  Sebagai upaya mewujudkan masyarakat membaca, Kantor Perpustakaan Umum melalui Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Bantul bekerja sama dengan TVRI Stasiun Yogyakarta mensosialisasikannya dalam Taman Gabusan. Sebuah program yang ditayangkan secara langsung setiap Selasa pukul 18.00 – 19.00 WIB.

Taman Gabusan edisi 17 Mei 2016 mengambil tema “Peningkatan Minat Baca Untuk Wujudkan Bantul Gemar Membaca. Edisi kali ini bertepatan dengan Hari Buku Nasional dan menghadirkan tiga orang  narasumber yaitu : Kepala Kantor Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, Priyo Harwijayanto, S.Si. M.Si; Kepala Bidang Pengembangan dan Layanan BPAD DIY, Drs. Bambang Budi Sulistya, M.M,; dan Pengelola Perpustakaan Desa Dlingo, Nurul Mufid.

Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul dalam melayani masyarakat Bantul telah berupaya semaksimal mungkin menyediakan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan. Setiap tahun buku selalu ditambah dengan berbagai ragam dan jenisnya, termasuk koleksi bahasa asing. Hal inilah yang menyebabkan kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul terus meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu sarana dan fasilitas senantiasa diperbarui sehingga pengunjung merasa nyaman berada di perpustakaan. Demikian diungkapkan Kepala Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul dalam kesempatan pertama.

Sementara Bambang Budi Sulistya menyampaikan bahwa indeks minat baca di Indonesia menurut data UNESCO hanya 0,001. Itu berarti dari setiap seribu orang  Indonesia yang punya minat membaca hanya satu orang, sedangkan indeks minat baca di DIY 0,049. DIY merupakan daerah dengan tingkat minat baca tertinggi se-Indonesia. Peningkatan minat baca harus terus dilakukan, diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan seperti mendongeng (story telling), lomba bercerita, maupun kegiatan lain yang terkait dengan buku dan membaca. Di samping itu sarana, prasarana dan kenyamanan ruang perpustakaan juga perlu ditingkatkan.

Dalam kaitannya dengan perpustakaan desa, Nurul Mufid mengatakan bahwa untuk mengelola perpustakaan desa diperlukan kesungguhan baik dalam hal pembiayaan, SDM maupun kegiatannya. Untuk itu Pemerintah Desa Dlingo telah menganggarkan perpustakaannya setiap tahun. Dana yang dialokasikan berasal dari APBDesa. Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan perpustakaan, honor pengelola, dan pembelian buku baru. Layanan internet melalui wi-fi pun bisa diakses masyarakat 24 jam secara gratis. Perpustakaan Desa Dlingo didukung oleh karang taruna sehingga kegiatannya berjalan dengan baik. (Muf)