Berita

Delapan Perpustakaan Desa Di DIY Berbasis TI

Rabu Pon, 27 Agustus 2014 09:03 WIB 1145

foto

Banyak Perpustakaan di Indonesia seringkali tak diperhatikan pengembanganya dan terlihat kotor, kumuh bahkan membosankan. Kondisi ini berbeda dari perpustakaan dinegara negara maju yang jadi tempat menyenangkan tak hanya untuk membaca namun juga belajar dan berbagi ilmu.

Karena itulah semua pihak perlu berperan serta membangun kapasitas perpustakaan sebagai pusat pembelajaran pembelajaran termasuk dukungan masyarakat dalam mengelolanya.” Ungkap direktur program perpuseru cocacola foundation indonesia (CCFI). Erlyn sulystyaningsih dalam lokakarya “Membangun komitmen Perpustakaan berbasis TI” di Eastpark Hotel, Selasa (26/8/2014).

Karena itulah, menurut Erlyn, kemitraan strategis antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam pengembangan perpustakaan terus dilakukan. Salah satunya melalui program perpuseru yang dimulai sejak oktober 2011 lalu.

Dalam program bersama ini, sebanyak 34 perpustakaan di kabupaten/kota di indonesia dikembangkan. Fokus program kali pertama itu lebih pada peningkatan kapasitas staff perpustakaan dan penyediaan perangkat komputer serta internet. Sedangkan pada fasec kedua kali ini akan dikembangkan 70 perpustakaan desa dan tujuh taman bacaan di 19 kabupaten di 12 propinsi ,” jelasnya.

Erlyn menambahkan dari 70 perpustakaan yang berbasis TI tersebut, delapan diantaranya tersebar diseluruh DIY, yakni perpustakaan desa dikelurahan Sidorejo, desanatal baru, Pangkalan Baru 3, Kapitan, Bendung, Bedoyo dan Kepek.

“Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa fasilitas bukun dan jaringan internet serta komputer namun juga pendampingan dan pelatihan kewirausahaan.” Jelasnya.

Sementara ketua pelaksana CCFI, Titi sadarini mengungkapkan, selama tiga tahun program tersebut dijalankan, autput yang dihasilkan sangat signifikan. Terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang datang ke perpustakaan.  “Selama enam bulan terakhir misalnya ada sekitar 700 ribu pengunjung perpustakaan di 34 perpustakaan”

Perubahan positif dimasyarakat ini perlu terus ditingkatkan. Sebab dapat menjadi embrio dan stimulus bagi pertumbuhan indonesia dan kemajuan bangsa. Program ini memberi konstribusi  signifikan sebagai indikator kemajuan daerah dan indonesia. Sehingga perpustakaan menjadi pusat pembelajaran bagi semua pihak.  “Yang disasar dalam program ini adalah anak muda, UMKM dan perempuan karena ketiga group itu bisa membuat perubahan bagi oindonesia” ungkapnya.

Ditambahkan general manager servise telkom DBS, Ponco Suharwono, diperpustakaan desa-desa tersebut disediakan jaringan wifi bagi pengunjungnya. Telkom menyediakan sekitar 10 megabyte untuk jaringan wifi yang bisa diakses menggunakan komputer, laptop, dan getget lainya.

“Program perpustakaan ini juga dapat direalisasikan di perpustakaan keliling yang lebih sedikit membutuhkan akses jaringan wifi. “ Imbuhnya.